Esquina dela Stezna

All About Voice of Heart

Kapan???…Kapan???

Wow… Tak terasa di usia yang belum genap 25 ini gua udah nyampe di fase “kapan?” yang ke-4. Anehnya lagi fase ini kayaknya wajib dilewati oleh semua orang yang pernah jadi mahasiswa dan setiap orang bakalan sibuk nyari jawaban masing-masing.

Fase “kapan?” pertama datang pas masih kuliah. Ribuan pertanyaan mengenai Tugas Akhir (TA) atau Skripsi akan datang menghampiri.

“Pa kabar? Udah ngambil TA? Kapan mulai nyusun?”

Pertanyaan ini sebenarnya sepele bahkan memotivasi si mahasiswa. Namun seiring bertambahnya jumlah angkatan yang menjadi junior kita, pertanyaan seperti itu sangat memekakkan telinga.

“Lagi nyari judul.”, jawaban minimal yang paling banyak keluar dari mahasiswa.

Setelah mendapatkan judul dan mulai menyusun fase “kapan?” yang ke-2 hadir lagi.

“Kapan kelar?”

“Sementara.”, jawaban diplomatis dengan tetap mempertahankan harga diri. Tapi setelah mulai kelihatan lama jawabannya menjadi pasrah dan ’sok agamis’ gitu.

“Doain aja…!”, biasanya juga diawali dengan, “Insya Allah!”

Akhirnya dengan perjuangan berat siang-malam TAnya kelar juga. Fuuuhh… Sebenarnya, disadari atau tidak, perjuangan terberat dari menyusun TA bukanlah terletak dari tingkat kesulitan TAnya, tapi pada perjuangan melawan rasa malas dan bosan yang wajib muncul. Salah satu penyebab dari datangnya rasa malas ini adalah ‘Status Tanggung’ mahasiswa yang sedang menyusun. Dibilang mahasiswa, gak kuliah, gak masuk kelas… Dibilang pengangguran, punya duit dari ortu…

Setelah diwisuda tiba saatnya ngirim-ngirim lamaran ke mana-mana. Status pada titik ini mulai enggak enak. Udah bukan mahasiswa, kalopun masih dikirimin duit sama ortu, itu lebih kepada ‘kasihan’. Perasaan ‘wajib’ menghidupi diri-sendiri dan lepas dari ortu mulai tumbuh subur. “Kapan” selanjutnya pun terlontar.

“Kapan kerja?”

“Kerja mah urusan rezeki…”, lagi-lagi harga diri yang tidak ingin dibilang ‘gak laku’ dan ’sok agamis’ menyertai jawaban ini walaupun sebenarnya masuk akal.

Akhirnya dapat kerja juga setelah sebelumnya sempat jual mahal atas nama keluhuran almamater dan IPK, juga sempat ‘itung-itungan’ antara besarnya gaji dan tenaga yang diberikan. Sebenarnya banyak alumni yang tidak menyadari bahwa ‘pengalaman pertama’ itu harganya mahal, dalam hal apapun. “Kapan?” pada tahap ini sempat dipopulerkan oleh Ringgo Agus Rachman di sebuah iklan. Akhirnya jawabannya pun mengikuti.

“Mei…”

Setelah ketemu jodoh dan menikah walaupun gak seperti yang dibayangkan ketika remaja, nikah ama bule, Sharapova, Aishwara Rai, Syakhrukh Khan, nikahnya di Ka’bah, Taj Mahal, apalah, “kapan?” yang lagi gua alami saat ini pun datang juga.

“Kapan berisi?”, semoga ini “kapan?” yang terakhir sebelum “kapan mati?”

Untuk yang satu ini sangat sulit menjawabnya. Harga diri sebagai laki-laki biasanya tercabik-cabik karena biasanya yang disalahkan adalah si laki. Kalau sudah begini, bukannya malah lebih baik, tapi malah tambah sulit untuk mendapatkan momongan. Kata Dr. Boyke kualitas sperma itu tergantung pada kesehatan fisik dan psikologis. Sebenarnya banyak logika yang bisa dijadikan jawaban, tapi tetap saja emosi ikut bermain dalam menjawab pertanyaan ini dan memang banyak kemungkinan yang menyertai ‘kenapa belum’. Bahkan untuk meyakinkan ke diri sendiri tentang kebenaran jawaban-jawaban tersebut bukan merupakan hal yang mudah.

“Mungkin karena gua mintanya yang perfect”, kemungkinan pertama.

Anak soleh/solehah, tampan/cantik, pintar, baik hati, rezekinya bagus merupakan impian setiap orang tua. Nah, mungkin karena sebegitu perfeknya si calon anak ini yang bikin doanya sulit dikabulkan. Tapi bukankah Allah tidak pernah membatasi segimana doa kita? Walaupun kata beberapa ulama mesti masuk akal juga. “Masa Shrek minta anak yang mirip Brad Pitt?”

Kalo dipikir sih, masuk akal juga. Karena diceritain di Quran bahwa Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil hanya karena Sang Nabi mengetahui bahwa kelak si anak ini bakalan jadi anak durhaka dan jahat gitu padahal ortunya merupakan orang soleh. Mendingan gak pernah jadi kan daripada gedenya jadi anak yang gak baik?

“Mungkin karena penganten baru”, kemungkinan kedua.

Masuk akal mengingat frekuensi koitus yang dilakukan oleh pengantin baru, sehingga sperma baik yang biasanya terbentuk setelah 3 hari tidak tercapai.

“Mungkin karena gua belum pantas jadi ortu”, ketiga.

Bener juga sih. Mungkin secara emosi maupun financial. Allah pasti tau yang terbaik buat kita dan yang buruk buat kita. Mana gua juga masih cepat bosan kalo bermain sama anak-anak. Maklum anak tunggal. Jadi ingat waktu masih kuliah, sering ngejahilin cucunya ibu kost. Yang masih SD sering gua tabok, gua sentil sama puntung rokok yang masih ada apinya, tapi anaknya emang nakal sih… Trus adiknya yang belum bisa ngomong juga gak lepas dari kejahilan gua. Pernah dia datang ke kamar gua sambil megang kue. Gua ajarin dia ngancurin kue dia trus dibuang. Abis itu gua ajarin makan sandal. Lucunya dia juga ikut-ikutan. Woww… Dosa banget ye?? Dulu gua ngeliatnya lucu, sekarang koq rasanya jahat ya???

Contoh dari kemungkinan ketiga ini terjadi pada pelawak Komeng. Setelah bertahun-tahun gak dapat anak, kayaknya di atas 5 tahun, akhirnya istrinya Komeng sekali ngelahirin langsung kembar enam. Gimana gak miracle tuh?

“Mungkin ada yang gak sehat”, kemungkinan keempat.

Begh, na’udzubillah banget nih. Emang sih, si bini punya kista di dekat ovarium, dan dia mriksain itu sebelum nikah dan gua taunya juga waktu itu. Lagian juga si bini skarang lagi sibuk-sibuknya di Rumah Sakit, sampe-sampe sering gak tidur sehari semalam. Bahaya juga tuh kalo berisi. Bisa-bisa junior gua keluarnya cacat.

Yang paling ngeri di kasus ini kayak yang didapetin ama Chandler dan Monica di Serial Friends. Keduanya diceritakan sebagai suami-isteri yang gak dapat-dapat anak. Setelah diperiksa, ternyata eh ternyata, spermanya Chandler gak ada yang “best swimmer”, sementara ovariumnya Monica siap membunuh setiap sperma yang masuk. Na’udzubillah min dzaalik deh…

“Mungkin karena gua sering ngomongin orang”, kemungkinan kelima.

Semua orang yang pernah jalan ama gua pasti tau gimana gua termasuk orang paling sempurna di dunia. Karena pasti tiap orang bisa gua dapetin celanya, yang gak pernah kepikiran sama teman jalan gua.

“Elu sih, nikahnya baik-baik…”, kemungkinan keenam.

Iya nih, dari beberapa pernikahan dini yang gua liat, yang nikahnya baik-baik sulit banget dapat anak. Banyakan yang accident duluan. Pernah juga kepikiran soal itu sebelum menikah dan sempat pengen nekat bocorin duluan biar dapat anak. Cuma waktu itu juga gua mikir, mau anak sebagai anugerah apa mau anak sebagai peringatan bahkan adzab dari Allah?

Akhirnya sampai juga gua ke pemikiran yang gua rasa lebih masuk akal dan masuk hati. TAKDIR. Selama ini kita menyatakan jodoh, rezeki, mati adalah suatu yang sudah ditetapkan. Padahal dapet anak juga begitu. Masalahnya, kasus anak berhubungan dengan takdir yang dimiliki oleh 3 orang. Suami, isteri, dan si anak. Suami dan isteri sudah punya ketetapan kapan nikah, sama siapa, kapan punya anak. Sementara si anak juga punya takdir sendiri yaitu, tanggal lahirnya, siapa ortunya, dst. Nah, Tanggal Lahir ini yang gua tryna say. Kalo gua ditetapkan punya duit 100.000 rupiah, itu masih terserah gua mau ngewujudin gak, dan cara lu ngedapatinnya. Kalo gua diem aja di kamar, gak mungkin tu duit datang. Trus caranya juga. Bisa saja itu emang udah ‘ditulis’ buat gua, tapi gua dapetnya dengan cara nyuri itu yang terserah gua.

Berbeda dengan anak. Segimanapun usaha kita, dan gaya yang kita pake waktu ML masih tetap bergantung pada takdirnya si anak. Dia lahirnya tanggal berapa, itu adalah takdir pribadinya yang gak boleh kita ganggu gugat. Makanya ada yang premature, ada yang kelamaan di rahim. TANGGAL LAHIR.

Akhirnya, tetap aja kita bakal nyerahin semua urusan ke Yang Maha Memiliki kita. Semuanya telah tertulis dan semuanya akan datang pada waktu yang tepat.

Namun demikian, di balik semua yang kita alami dalam hidup ini, beserta “kapan-kapan” tersebut ada hikmah dan cerita yang dapat dikenang. Susah senangnya sama lucu-lucunya merupakan perjalanan hidup yang indah. Hal ini akan lebih bermanfaat lagi buat kita menghadapi “kapan-kapan” yang berikutnya pasti akan datang menghadang kita selama kita masih di bumi ini. Emang bener, manusia gak ada habisnya ngurusin orang lain dan juga gak ada habisnya ngasih alasan…

2008, May 3 - Posted by Qoru | Health & Wealth, Nyang Lagi Happening, Spiritualism | , , , , , | 3 Comments

3 Comments »

  1. hehehe.. kalo dah capek jawab aja “kapan-kapan!”

    kurang lebih banyak cerita yang mirip dengan yang terjadi pada kami. setidaknya setiap “kapan?” yang diungkapkan bisa menjadi pengingat bagi kita.

    gak usah terlalu dijadiin beban. nikmati.

    kapan yah suamikuh pulang? besok? hiks.. lamanya…

    Comment by thebini | 2008, May 4

  2. Ha! ha… ha… ha… sabar kak!

    Comment by Dini Ayu | 2008, May 6

  3. ha baru dua puluh lima tahun lho… jangan kuatir! hidup masih panjang… (kalo dibanding umur kupu-kupu)

    hehehehehe

    Comment by bangpay | 2008, May 14


Leave a comment