Tenaga Dalam: Kuat, Sehat, Santai… (lanjutan)

Selain untuk bela diri, tenaga dalam juga dapat digunakan untuk kesehatan, relaksasi, deteksi atau mengirim kekuatan jarak dekat dan jauh, bahkan untuk mendapatkan kekebalan secara fisik. Really???
Dalam konteks tenaga dalam, frekuensi bernapas akan diperlambat misalnya 2 kali per menit. Dengan frekuensi bernapas seperti itu, kapasitas vital paru-paru akan meningkat. Seluruh gelembung paru-paru akan mengembang dan aktif dalam proses pernapasan. Pada olahraga biasa, pernapasan memang menjadi leibh dalam dan cepat, tapi bertambah dalamnya pernapasan tak pernah semaksimal seperti pada latihan olah napas.
Dalam olah napas, otot-otot yang berkaitan dengan pernapasan juga ikut dilatih. Tak hanya otot paru-paru, tapi juga otot lain yang membantu proses pernapasan. Bahkan, otot dinding perut dan dasar panggul pun ikut dilatih, khususnya saat menekan napas di bawah perut. Banyaknya otot yang ikut dilatih membuat tubuh menjadi hangat, bahkan berkeringat saat berlatih.
Olah napas intinya berupa menarik, menahan, dan melepaskan napas. Selang waktu tarik, tahan, dan keluar napas berkisar 10 – 30 detik. Metode pelatihan dan posisi tubuh berbeda-beda pada setiap perguruan. Begitu pula dengan bacaan-bacaan tiap melakukan olah napas.
Dalam olah napas ini, tarikan napas memberikan oksigen pada darah sampai bersifat basa. Setelah lama ditahan, CO2 menumpuk dan suasananya menjadi asam. Asam dan basa merupakan katalisator reaksi organic. Pada katalis asam umum, biasanya efektivitas katalisator sesuai dengan kekuatan asamnya. Makin lama napas ditahan, suasana darah makin asam, sehingga reaksi organic dalam darah makin dipacu dan meningkat. Energi akhir yang dihasilkan pun makin besar.
Menahan napas di bawah perut sambil bergerak menyebabkan kekurangan O2 pada paru-paru, darah, dan seluruh sel jaringan terutama pada sel-sel otot aktif. Jadi, seluruh sel tubuh dirangsang tetap tegar menghadapi krisis O2. Dengan begitu, fungsi sel-sel akan makin baik dalam keadaan oksigen normal.
Sel tubuh manusia dapat bertahan tanpa O2 sekitar 5 – 8 menit. Manipulasi O2 dengan membuat sel-sel tubuh kekurangan O2 ini merupakan cara fisiologis untuk merangsang sel-sel tubuh meningkatkan diri.
Beberapa manfaat langsung dapat diperoleh dari mekanisme itu. Misalnya, bertambahnya haemoglobin (Hb) darah. Ini terbukti pada para pemukim di pegunungan. Dengan kondisi O2 tipis, jumlah Hb darah mereka lebih tinggi daripada penghuni dataran rendah. Penderita anemia pun kabarnya dapat sembuh dengan cara ini.
Olah gerak merupakan bagian kedua untuk membangkitkan inner power. Olah gerak ini berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi dan kepekaan, serta mengumpulkan tenaga dalam di solar plexus. Dari olah gerak tenaga akan mampu dirasakan, dikendalikan, dan dikumpulkan di sekitar perut, dialirkan ke seluruh dan keluar tubuh, lalu dimanfaatkan energi sesuai keperluan.
Adanya kegiatan energi di sekitar pusar umumnya ditandai oleh rasa panas dan ‘kesetrum’. Peredaran energi itu dapat dikendalikan sepenuhnya ke bagian tubuh manapun atau benda dan orang lain.
Sejak awal, efek psikologis dan fisik telah terlihat walau mungkin belum disadari. Rasa damai, tenteram, tenang, sabar, berpikir lebih jernih, perhatian pada lingkungan, bahkan mungkin jadi lebih santun. Ini karena terbiasa berkonsentrasi dan mengikuti suatu hal teratur yang menyenangkan.
Tubuh pun lebih bugar, bebas dari gangguan ringan (pusing, pegal, kelelahan), dan berkurangnya gejala penyakit dalam (kolestrol, darah tinggi, asam urat, asma, gangguan jantung, dll).
Jadi, olah napas (inti kehidupan) dan olah gerak (ciri kehidupan) intinya adalah olahraga sederhana yang menyenangkan serta mengajarkan disiplin dan keteraturan. Tubuh dilatih menerima segala sesuatu dengan porsi sesuai kebutuhan dan kemampuan. Sel, jaringan, hingga peredaran darah diarahkan bekerja sesuai baku yang sama di semua tahap sesuai fungsi masing-masing.
Setelah olah napas dan olah gerak, kekuatan berikutnya adalah konsentrasi. Kekuatan inilah yang banyak menetukan keberhasilan membangkitkan tenaga dalam.
Disadur dari Intisari edisi Juni 2005: Tenaga Dalam Tak Cuma Milik Jaka Sembung
No comments yet.
