Back to Fitrah
Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam (Ary Ginanjar Agustian)



Baru nemu buku ini di rak temen pas lagi berkunjung ke kosannya. Waktu minjem bukunya masih bagus, gak kayak yang di foto. Abisnya kata dia gak pernah dibaca. Abis baca prolog, sontak (ciee…) gua balik ke halaman depan. Ternyata buku yang lagi gua baca ini udah cetakan keempat, September 2001 pula. Kemana aja nih buku selama ini??? Pas gua baru mau masuk kuliah nih buku udah nongol dan mungkin bisa bantu gua dapetin sukses di kuliah. Maybe that’s what they called ‘hidayah’, datangnya kapan trus buat siapa terserah Allah SWT. Mungkin juga Allah pengen pas hidayahnya masuk ke gua, trus gak ilang-ilang lagi. Tau kan gimana susahnya istiqomah pas kuliah. Apalagi kalo lu tau masa kuliah gua…
Diawali pengantar oleh tokoh-tokoh yang terkenal kehebatannya di bidangnya masing-masing, seperti negarawan, ulama, ekonomi, dll, buku ini menjelaskan tentang aplikasi rukun iman dan rukun islam yang selama ini dipahami hanya sebagai syarat dan sering dalam bentuk hapalan aja.
Gua gak berhenti ngucapin “Wow…” (aturan sih, “Subhanallah”) selama baca prolognya. It’s so make sense buanget! Gua juga gak henti-hentinya nyesel, seharusnya hal-hal ini udah diajarin sejak kecil. Malahan gua udah bertahun-tahun hapal haditsnya tapi baru skarang nyadar kalo sebenarnya aplikasinya lebih luas dan lebih nyata dari yang selama ini gua tau.
Abis itu gua balik lagi ke daftar isi, untuk sekedar skimming dan ngaitin dengan Rukun Iman dan Rukun Islam per rukunnya, lagi-lagi gua takjub. “Hebring, masuk akal dan masuk hati!” Di awal pembangunan ESQ ini kita diajak untuk berpikir jernih. Melepaskan semua pandangan di luar fitrah, kembali ke nurani yang paling dalam, biar lebih objektif dalam menilai segala sesuatu, termasuk tentang buku ini. Buku ini seolah-olah menyimpulkan semua ilmu yang udah gua dapat selama ini, termasuk tentang fitrah. Keyakinan gua sebelumnya tentang radar hati, gimana dia gak pernah boong, dan akibat kalo ngelanggarnya. Flashback ke masa remaja ketika masih mondok, gua pernah cedera mata karena gak sengaja kena bats waktu nungguin giliran maen tennis meja. Padahal sebelumnya kata hati gua udah mencegah agar gak ke situ dan menyuruh untuk tidur siang aja. Bedanya waktu itu gua taunya itu “voice in my head” aja. Dari mana asalnya dan hubungannya ama Allah gua gak tau. Kira-kira kelas 3 SMP gua juga pernah mikirin alasan Syekh Siti Jenar yang ngaku kalo dia adalah Tuhan. Waktu itu gua mengkaji ayat Quran yang bilang kalo kita itu adalah bongkahan daging dan kemudian ditiupin ruh Allah, yang juga dikenal sebagai ‘nyawa’ yang gak pernah bisa ditiru sama manusia. Orang bisa aja bikin jantung buatan, tapi kalo nyawa? Nah, Siti Jenar nyimpulin berarti Allah nyatu ama kita, karena ada bagian dari Allah yang juga bagian dari diri kita. Beliau juga ngambil ayat yang nerangin kalo Allah lebih dekat dengan kita ketimbang urat nadi kita. Secara LOGIKA hal itu benar demikian pula konsep ‘Gusti Manunggaling’-nya Syekh Siti Jenar. Tapi balik lagi ke fitrah, ask your heart, apa bener kita adalah Allah dan Allah adalah kita. Nah, pemikiran-pemikiran non-fitrah seperti Siti Jenar inilah yang berusaha dibersihin terlebih dahulu sebelum memahami Rukun Iman dan Rukun Islam.
Buku ini bahasanya ringan, meliputi semua aspek kehidupan, dan contoh-contohnya nyata dan mudah ditiru, beda dengan contoh-contoh Dale Carnegie dalam “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain” yang menurut Ary Ginanjar terlalu mendewakan penghargaan. Gua baca bukunya Mr. Dale tahun 2000-an dan asli susah banget dipraktekin, khususnya buat orang Indonesia. Kalo menurut gua sih, penghargaannya terlalu dibuat-buat dan penuh dengan kepura-puraan. Udah gitu mending kalo berhasil. Kalopun udah tulus nanyain tentang orang itu, biasanya dijawab seadanya trus biasanya dia udah masang kuda-kuda duluan, takut ketipu atau kehipnotis. Minimal lu bakal dibilangin ‘cari muka’ atau ’sok care’. Masalahnya kan gak semua orang di dunia ini baik dan gak punya prasangka buruk. Jadi metode Mr. Dale menurut gua pilih-pilih orang.
Salah satu kehebatan dari buku ini, walaupun gua ngakuin kebenaran isinya, gua tetap aja ngelupain si penulis. Artinya gua tetap takjub ke Allah dan ngakuin bahwa kebenaran hanya dari Allah. Beda dengan buku lain yang bikin kita takjub sama si penulis dan akhirnya membawa kita ke PENGKULTUSAN. Tau kan siapa Karl Marx, Lenin, dll? Di awal kuliah gua sempat yang ngefans ama Aa’ Gym, tapi gak bertahan lama karena takut terbawa ke pengkultusan. Teman-teman gua juga banyak yang ngefans ama beliau. Gua akui kalo kata-kata beliau itu benar, tapi yang gua gak suka kalo orang lebih melihat beliau ketimbang perkataan beliau. Gua bilang ke temen-temen gua, “Yang gua takutin kalo beliau wafat, orang-orang, termasuk kalian, bakal nongkrongin kuburnya untuk minta doa, kayak makam para sunan.” Tapi tetap aja, temen-temen gua malah nyibir gua. Emang sih gua gak alim-alim banget… Terakhir pas beliau nikah lagi, temen-temen gua yang dulunya ngefans malah benci, minimal gak suka ama Aa’ Gym malahan gak mau dengerin ceramahnya lagi. Termasuk ibu-ibu pengajian yang dulunya datang dengan bis ngunjungin DT, skarang udah berkurang. Kayak gitu tuh akibat dari pengkultusan individu. Menurut gua, kalopun ada yang pantas untuk dikultuskan, beliau hanyalah Rasulullah SAW. Itupun beliau gak pernah minta kita nganggap dia lebih dari manusia biasa. Rasul tetap meminta kita untuk lebih mencintai Allah SWT kemudian dirinya.
Inti dari buku ini menurut gua adalah “Back to Fitrah” atau dalam bahasa penulis, “99 Thinking Hats”. Mengajak kita untuk berpikir sesuai sifat ilahiyah yang sebagian ada dalam diri kita dalam bentuk hati. Whatever you do, wherever you are. Apapun permasalahan yang dihadapi hendaknya kita balik ke fitrah. Fitrah akan menjawab permasalahan apapun. Fitrah juga yang membentengi kita dari aliran-aliran sesat yang lagi ngetrend, membuat kita lebih bijak dalam menyikapi serangan dari musuh Islam, dan sekali lagi semua masalah di dunia ini. Fitrah itu juga gak sulit untuk dicari karena semua sudah ada sejak 14-an abad yang lalu dalam Al-Quran, yaitu ASMAUL HUSNA. Sifat-sifat Ilahiyah yang tertuang dalam Asmaul Husna inilah yang disisipkan Allah ke setiap manusia dan gak bakalan pernah hilang walaupun tidak 100% seperti yang dimiliki Allah SWT. Contohnya, kita punya sifat pengasih, penyayang, cinta keindahan, dll. Bahkan Firaun atau Hitler sekalipun memiliki sifat ini, hanya saja karena hawa nafsunya yang lebih gede yang nutupin sifat-sifat itu. Kalo Firaun, Hitler, Mussolini mau merenungi dan menanyakan hati nurani mereka yang terdalam, mereka PASTI bakal nemuin sifat-sifat itu dan gak akan berbuat kerusakan di muka bumi ini. Menurut gua lebih lengkap lagi kalo kita juga menambahkan cara bertindak sesuai sunnah (ala Rasul SAW). Misale ketika munculnya film FITNA, cobalah kita bayangin, “Seandainya Rasul masih hidup apa yang bakal diperbuatnya? Akankah beliau anarki? Atau malah memaafkan si pelaku?
Sumpah sebelum ketemu buku ini, gua adalah fans Hitler dan Musolini. Hanya saja gua masih punya benteng Iman dan Islam sampe gua gak sampe komunis atau ‘kekiri-kirian’. Gua suka mereka berdua sebagai personnya, ajaran dan fahamnya gua sama skali gak suka. Yang bikin gua salut mereka adalah pemimpin hebat yang bisa mempengaruhi orang banyak. Hanya saja, menurut Ary Ginanjar, karena ajaran mereka tidak sesuai fitrah yang menyebabkan kepemimipinan mereka gak abadi. Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW yang ajarannya masih tersebar luas sampai sekarang, asli, dan tambah banyak pengikutnya selain yang murtad.
Terakhir, buku ini ditujukan untuk semua manusia. Pelajar, pengusaha, pegawai, pemimpin, bahkan agama di luar Islampun sekiranya bersedia untuk mencoba buka pikirannya dan berani menilai secara obyektif isi dari buku ini. Semoga buku ini bermanfaat buat kita semua. NERAKA UDAH SESAK, MAN… JANGAN DITAMBAH LAGI!!!
No comments yet.
