Esquina dela Stezna

All About Voice of Heart

Televisi Indonesia, Ajang Pembodohan

Pada tulisan pertama saya ini, saya akan membahas sedikit pandangan saya mengenai sinetron Indonesia. Pandangan yang telah lama saya pendam dan mungkin juga dipendam oleh banyak penonton Indonesia. Pandangan yang muncul kembali bersamaan dengan munculnya iklan sinetron yang dibintangi oleh Chacha di sebuah stasiun TV. Sinetron ini kembali memancing emosi saya untuk mengomentarinya. Pada iklannya ditampilkan seorang Chacha yang sedang menggunakan mukenah dan berdoa sambil menangis. Sementara kita semua tahu “who really is she”, bagaimana penampilannya di luar sinetron, belum lagi foto-fotonya bersama pilot muda itu. Pertanyaannya, “Apa gak ‘keberatan’ tuh peran?” Pertanyaan yang sama dari benak hati saya dengan yang sebelumnya ketika melihat seorang Rianty yang memakai cadar. Wheeew..

Sekedar mengingatkan, pada awal 2000-an masyarakat Indonesia ‘dibodohi’ oleh cerita-cerita mistis. Bahkan di salah satu stasiun terjadi metamorfosis cerita dari yang sebelumnya tentang percintaan remaja menjadi mistis. Intinya, sang cowok akhirnya meninggal dan kemudian hidup lagi sebagai hantu. Mungkin pada waktu itu idenya sudah habis, makannya pindah. Pertanyaan saya waktu itu, “Apa salahnya memulai sinetron baru?” Sang sutradara ingin memperlihatkan kreatifitasnya menggabungkan dua ide yang berlainan atau malah memperlihatkan kebodohannya, saya juga nggak tau. Tapi akhirnya sinetron itu tutup juga.

Kira-kira 1-2 tahun belakangan masyarakat kemudian disuguhi dengan tontonan yang seragam. Idenya adalah seorang tokoh sentral. Sinetron seperti ini memiliki ciri yaitu judulnya berupa nama sang tokoh seperti, Bunga, Mawar, Cantik, dll. Ceritanya pun nyaris seragam. Biasanya sang tokoh memiliki masa kecil yang suram, miskin, gelandangan, kemudian belakangan terungkap bahwa dia adalah seorang anak orang kaya. Paling banter cucunya orang kaya. Sungguh indah hidup seperti itu. Cerita-cerita seperti ini dapat membuat anak-anak atau remaja memiliki impian yang sangat muluk, terutama yang lahir dari keluarga menengah ke bawah. Merekan akan berharap semoga orang tuanya yang sekarang bukan orang tua aslinya. Selanjutnya dapat menimbulkan dampak ketidak-hormatan seorang anak terhadap orang tuanya. Kita semua tahulah bahwa televisi adalah alat terbaik untuk menghipnotis orang. TV dapat mengarahkan bahkan mengubah pola pikir seseorang. Sadar tidak sadar itulah kenyataannya.

Oia, saya hampir lupa, bahwa sebelum peralihan dari mistis ke ‘angan-angan’ ini masyarakat juga disuguhi oleh model cerita yang menggambarkan si tokoh utama sangat-sangat menderita. Berbagai masalah seolah tiada hentinya. Setelah satu masalah terpecahkan timbul lagi masalah lain. Hidup seolah-olah penuh dengan konflik. Kesedihan dan penderitaan diekspose besar-besaran, bahkan kadang berlebihan. Negeri kita seolah-olah negeri yang suka menangis. Tidak ada semangat menjadi lebih baik. Tidak ada kebahagiaan di negeri ini. Semuanya menyedihkan. “Apa iya hidup selalu begitu menyedihkan?” Tuhan tidak pernah menciptakan seseorang untuk selalu menerima penderitaan.

Hal lain yang senang diekspose oleh tv adalah kemiskinan. Memang benar negeri kita dihuni lebih banyak oleh orang miskin. Dari semua tayangan tentang kemiskinan, berapa banyak yang ditujukan untuk menggugah pemirsa untuk memiliki empati dan menjadikan kita semua maju? Sangatlah sedikit. Berapa banyak tayangan yang mampu menggugah pemirsa yang miskin untuk menggandakan usahanya keluar dari garis kemiskinan tersebut? TIDAK ADA!!!

“Ah, Mas Qohar terlalu skeptis!”

We’ll see! Saat ini sedang menjamur ajang pencarian bakat, di mana pemenangnya ditentukan oleh SMS pemirsa. Hal yang menarik adalah kebanyakan pemenangnya adalah orang yang kurang mampu. Anehnya lagi, skill mereka biasa-biasa saja. Masyarakat kita lebih menilai orang dari miskin-kayanya dibandingkan kemampuan di bidang tersebut. Jangan heran prediksi para komentator biasanya meleset. Bandingkan dengan produk luar! American Idol. Prediksi Simon Cowell, yang menyebalkan dan gak pandang bulu, 90% tepat. Karena People of United Statesnya memilih berdasarkan skill. Gak peduli lu kaya atau miskin, kalo lu gak bisa nyanyi, out! Dan yang terbaru Idola Cilik, saya selalu ngikutin acara ini. Yang menyebalkan adalah ketika Sang Presenter yang agak garing selalu mencoba untuk menguak sisi sedih dari seorang anak kecil. Kalo gak berhasil bikin anaknya nangis, dicari-cari pulalah cara lain untuk membuat si anak sedih. BENER-BENER!!!

“Kan bagus kalo gitu. Kita bisa mengubah hidup seseorang dengan SMS kita.”

Belum tentu! Berapa banyak dari “kacang-kacang” itu yang ingat akan “kulitnya”? Lagian apa salahnya jika orang kaya yang menang? Kalo dia memang punya skill? Superhero kan bukan hanya Superman dan Spiderman, ada juga Batman yang hebat dan kaya-raya. Selain Si Unyil kan ada Richie Rich juga??

Saya tidak bermaksud diskriminasi. Saya juga bukan anak orang kaya. Nulis ini aja saya dari warnet. Saya hanya menghimbau untuk melihat segala sesuatu apa adanya. Jika Anda disuruh menilai mana yang terbaik suaranya, jangan lihat tampang atau latar-belakangnya. ‘Lihatlah’ suaranya.

Bener kan judul saya di atas? Dari yang punya stasiun, produser, sampe aktornya kliatan banget gak ada yang kerja pake hati. Nyari duit doang kayaknya…

2008, March 11 - Posted by Qoru | Media | | 11 Comments

11 Comments »

  1. sama mas qohar… saya juga gak pernah nonton yang gituan… palagi yg jam tayangnya panjang banget tuh… bikin Bete tau gak.. :-)

    btw so mantap ini.. hihihihi

    Comment by syamsu | 2008, March 11 | Reply

  2. Artikel yang menarik. I agree with your opinion. Kalau menurut gw sih, hampir semua sinetron indonesia itu biang kerok-nya adalah Ram Punjabi. Makanya semuanya monoton.

    Comment by Doze | 2008, March 12 | Reply

  3. baru nge-blog ya kak? hehehe…

    ane iseng mampir dan langsung menemukan isi curhat yg sangat idealis dr k’qohar.

    kalo dihadapkan pada pertanyaan; “kenapa semua isi sinetron indonesia bisa begitu?” jwabannya simple: “karena selera org indonesia emang seperti itu.”

    ane p mama suka sinetron yg penuh derai air mata. ane pe adek suka sinetron misteri yg kira2 depe judul “beranak dalam kbur”. dan ane pribadi?! ane suka nulis novel yg kebanyakan org bilang topic-nya “pasaran”. dan, mungkin para pembuat skenario film juga seperti ane, membuat sinetron dgn topik “pasaran”. tujuannya? biar skenarionya LAKU dan diperpanjang PRODUSER.

    skarang gini.. kalo ane dihadakan pada pilihan “mau bikin karya yg idealis dan tdk pasaran” atau “mau bikin karya komersil tapi sangat pasaran”–ane pilih yg terakhir. Alasannya? ane butuh duit! dan, mungkin para penulis skenario itu juga sperti itu!

    Comment by dini ayu | 2008, March 14 | Reply

  4. @ dini_ayu: Iya sih baru ngeblog. Abisnya dulu waktu lg suka-sukanya nulis malah gak ada tempat. Tpaksa suka ngirim ke kompas online. Itupun gk semua dimuat.
    “Selera”.That’s what I’m sorry for…
    Dulu itu di bandung sempat ada yang bikin kaos tulisannya “Tersanjung Cukup 1″. Ato kayak lirik dari band baru yg kira2 bilang “karena alasan pasar semua bikin lagu cinta”.
    Masalahnya gini lho menurut aing, bisa kan bikin sesuatu yang laku di pasaran atau memenuhi selera pasar tanpa harus membodohi? Hollywood bisa lho… Mereka slalu mratiin yang namanya ‘detail’ sehingga smuanya masuk akal. Nonton sekuel “Back to The Future”? Itu dibuatnya tahun 80-an kalo gak salah tapi smua detailnya make sense. Sampe kapan kita terus bertahan di bawah tempurung emas?
    Kalo semua pihak memakai prinsip “mencerdaskan kehidupan bangsa” masyarakat modipaksain pun seleranya pasti ngikutin. Kasarnya, bayangin smua org2 kreatif baik di novel, tv, etc pada bikin sesuatu yg menentang arus. suka gak suka masyarakat tetap harus ngikutin kan? Mereka bakalan gak punya banyak pilihan. Akhirnya, everybody won… :)

    Comment by stezna12 | 2008, March 17 | Reply

  5. alow bro…already had a place to put your deposit? ^^

    btw,sinetron dipikirin, wasting ur time bro, everything happens for a reason, so as long there a reason why Indonesian people watching this shit, than sinetron will always come on ur television…

    sooo, daripada mikirin itu, lets fight against global warming…hehe… OOT…

    Comment by oneal | 2008, April 7 | Reply

  6. sinetron sudah lama sekali ku tinggalkan, malas saja. apalagi dengan seneitron-sinetro yang sok religius..
    malah anak2 di rumah kularang untuk nonton sinetron karena lebih banyak ngerusaknya daripada ngajarin hal positif. Kalo kata Kak Seto “kalo mo bicara soal pendidikan anak, tinggalkan televisi!”

    kayaknya bukan hanya dunia sinetron, lagu-lagu ciptaan sebagian musisi muda (terutama pendatang baru) di indonesia juga makin membosankan saja. ditulis apa adanya. pokoknya arti dan maknanya ya yang ditulis itu. Gak ngajak penikmatnya untuk berpikir and mencoba menebak isi lagu. alasannya praktis juga LAKU alias pasaran. dan lembutnya setengah mampus! Lagu Cinta Melulu kata Efek Rumah Kaca :-)

    Letto atow Nidji gitu kan masih bagus. Liriknya dalam dan bisa diartikan banyak hal. gak langsung to the point ajah!

    Comment by jengtika | 2008, April 16 | Reply

  7. gampang mas,,

    ajak istri n anak2 jgn nonton,,
    trusss… ajak keluarga n keluarga istri jgn nonton,,
    trusss… ajak temen n temen istri jgn nonton,,
    trusss… ajak org yg pernah diajak bwt ngajak org lg jgn nonton,, (kyk yg diatas)

    lama2 kan ga ada yg nonton –> produser rugi –> bis itu ga ada yg bikin sinetron kyk gt lg

    if we want to change a nation,, try to start with the simple one

    don’t be a NATO (hehe,,,)

    Comment by ydod | 2008, April 17 | Reply

  8. gampang mas,,

    ajak istri n anak2 jgn nonton,,
    trusss… ajak keluarga n keluarga istri jgn nonton,,
    trusss… ajak temen n temen istri jgn nonton,,
    trusss… ajak org yg pernah diajak bwt ngajak org lg jgn nonton,, (kyk yg diatas)

    lama2 kan ga ada yg nonton –> produser rugi –> bis itu ga ada yg bikin sinetron kyk gt lg

    if we want to change a nation,, try to start with the simple one

    don’t be a NATO (hehe,,,)

    Bener banget langkah kongkrit oleh Mas ydod. Gampang gak ya, mengingat belum ada substitusi yang lebih menarik dari sinetron? Yang ada juga orang-orang itu dipaksa biar gak nonton. Kena HAM lagi deh… Kalo masih di lingkungan keluarga mah, mungkin masih bisa, cuma kalo di luar? Ngajak dapet duit aja belum tentu mau apalagi ngajak buat ninggalin yang dirasa nikmat. Sama kayak kita ngajak orang berhenti dari narkoba atau rokok. Makanya, kita kampanyein sama-sama. TV Education aja yang jelas2 berguna, jarang ditonton lho…
    NATO, itulah masalahnya Masss… Sampai saat ini blog blum bisa ngeliatin action. Jadi Blog itu bener2 buat ‘Talk Only’ apapun yang di-talk-in…

    Comment by Qoru | 2008, April 22 | Reply

  9. alumni ic gorontalo kok kayak berandalan….!

    astagfirullahaladim

    semoga anak ic serpong gak ketularan

    Comment by ic serpong | 2008, October 31 | Reply

  10. Berandalan dari fotonya, Mas? HAHAHA… Saya juga punya foto yang pake gamis. Kalo Mas liat itu, serta-merta Anda bilang saya kayak syekh…

    Remember, don’t judge book from the cover. Kalo mau, hayo saya tantang hapalan Quran.. Taruhannya cabut kuku salah satu jari kaki… gimana?

    Comment by Qoru | 2008, November 12 | Reply

  11. iye maaf cm bercande

    alumni ic serpong mah kagak pinter hafalan qurannya

    tapi kan yang pentink good inside good outside

    Comment by ic serpong | 2008, November 13 | Reply


Leave a comment