Gubernur Gorontalo, Not-so-Nice Job!!!

Gubernur Gorontalo baru aja kepilih. Euforianya udah dimulai jauh sebelum pengumuman dari KPU, malah konvoinya dimulai pada hari pemilihan. Satu hal yang kocak dari pemilihan Gubernur kali ini adalah terjadinya dua kali konvoi dari dua kandidat yang berbeda. Penyebabnya apa lagi kalau bukan SMS hoax. Mungkin karena “Mama” udah kebanyakan pulsa, makannya “Mama” SMS-in semua orang buat ngasih tau pemenang versi KPU.

Sebenarnya saya pribadi gak mau jadi gubernur. Selain umur saya yang masih muda, saya juga bukan orang yang berlimpah harta. Bukankah syarat untuk menjadi Kepala Daerah di Indonesia adalah TUA atau KAYA. Jika tidak memenuhi salah satu dari dua syarat tersebut, dapat dipastikan kita tidak akan menjadi Kepala Daerah. Jika suatu saat ada Kepala Daerah yang MUDA atau MISKIN, maka kita harus mendatangi halaman kantor-kantor pemerintah dan melihat ke atas, mungkin bendera yang berkibar bukan lagi MERAH PUTIH.

Berhubung saya tidak akan mungkin jadi gubernur (not now at least), maka saya hanya akan memberikan masukan buat gubernur yang terpilih. Hal pertama yang harus dilakukan oleh Gubernur Gorontalo adalah menahan diri. Menahan diri dari mengutak-atik susunan kabinet atas dasar balas jasa dan balas dendam. Lucunya di negeri ini (meminjam istilah Bona Paputungan), kita gak harus pintar dan cakap untuk menjadi pejabat seperti yang tertulis pada Surat Keputusan pengangkatan dalam jabatan. Yang harus kita lakukan hanyalah memeriksa silsilah keluarga, kali aja nyambung dengan pucuk pimpinan, atau mempersiapkan sajak puji-pujian untuk pucuk pimpinan yang dikenal dengan istilah “koprol”. Berhubung hal yang pertama tidak dapat kita usahakan karena berhubungan dengan takdir, maka satu-satunya yang tersisa adalah KOPROL.

Parahnya semua Kepala Daerah di Indonesia memiliki 1 program yang sama untuk semester pertama pemerintahannya, yaitu utak-atik kabinet. Kalau diibaratkan, mereka lebih memilih orang yang buta huruf untuk menjadi Kepala Dinas Pendidikan asalkan masih ada hubungan keluarga daripada memilih seorang Profesor tapi tidak ada hubungan sama sekali. Memang benar, perintah dan ide kita akan lebih mudah diterima dan dikerjakan oleh orang yang memiliki hubungan keluarga dengan kita ketimbang orang lain, tapi profesionalitas harus lebih diutamakan. Lebih baik memilih musuh yang berkompeten di bidangnya daripada saudara sedarah tapi bodoh.

Setelah Menahan Diri, langkah selanjutnya adalah membina kembali hubungan dengan kepala daerah tingkat II, walikota dan bupati. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sering terjadi perseteruan antara gubernur dan walikota atau bupati. Hal ini sangat-sangat tidak baik untuk pembinaan masyarakat. Gimana bisa kita mengharapkan rakyat yang rukun sementara pemimpinnya saja selalu berseteru? Memang benar untuk mengharapkan ada yang mengalah adalah sesuatu yang mustahil. Yang pasti jika orientasi dari bos-bos ini hanya untuk jabatan, maka perseturuan itu tidak akan berakhir. Sebaliknya jika orientasinya untuk memimpin dan membina masyarakat, maka “mengalah” bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan.

INFRASTRUKTUR. Kata ini paling sering dijanjikan dalam kampanye apapun, kepala daerah, legislatif, sampai presiden, tapi paling jarang terealisasi. Khusus Gorontalo, insfrastruktur kita masih jauh dari memadai. Di bidang transportasi, kita masih mempermasalahkan jatah pembangunan dan perbaikan jalan. “Ini jalan provinsi,” kata bupati/walikota. “Ini jalan kabupaten/kota,” kata gubernur. Sekali lagi, jika orientasinya adalah rakyat, maka saling melempar tanggung jawab ini tidak akan terjadi. Hal yang lumrah di negeri ini lagi adalah ketika berbicara mengenai kewajiban dan tanggung jawab, maka kita akan saling melemparkan tanggung jawab. Tapi jika berbicara dana, maka kita akan saling berebut. “Ini adalah dana kabupaten/kota,” kata bupati/walikota. “Ini adalah dana provinsi,” kata gubernur. Padahal para Kepala Daerah ini, baik tingkat I maupun tingkat II, semuanya memiliki prinsip yang sama dalam pembangunan jalan, TAMBAL SULAM. Semakin cepat jalannya lubang, semakin baik, karena proyek perbaikan jalan semakin sering, ujung-ujungnya fee kepala daerah semakin banyak. Jadi, kalo prinspinya sama, kenapa harus saling melempar tanggung jawab? Kan pasti untung, Bos!

Infrastruktur lain yang masih butuh pembenahan adalah telekomunikasi. Provinsi Gorontalo yang sudah berusia 1 dasawarsa ini telekomunikasi selulernya baru dicover oleh beberapa operator seluler, dengan satu operator terbesar. Dari semua operator, tidak satupun yang memiliki sinyal yang lumayan kuat. Semuanya jauh di bawah lumayan. Telekomunikasi adalah salah satu pilar utama untuk memajukan suatu provinsi. Bayangkan berapa rupiah yang rugi karena putusnya hubungan telekomunikasi! Dalam hal ini Gubernur Gorontalo wajib memerintahkan operator seluler untuk meningkatkan layanannya terutama penyediaan sinyal yang handal. Jika operator tetap tidak dapat memenuhi permintaan masyarakat, maka Gubernur Gorontalo sebaiknya mengundang investor seluler lain untuk ikut bersaing di Gorontalo.

Infrastruktur lain menurut saya yang masih butuh perhatian gubernur adalah listrik. Dalam beberapa tahun terakhir PLN sebagai pemegang hak monopoli penyedia listrik telah memperluas cakupannya dengan memonopoli caci maki masyarakat Gorontalo. Masyarakat yang selama ini tidak pernah dipuaskan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah tidak mau menerima alasan dalam bentuk apapun. Yang mereka tahu adalah listrik jalan terus. Tugas Gubernur Gorontalo sebagai pelayan masyarakat adalah menyediakan listrik bagaimanapun caranya.

Terakhir yang penting menurut saya adalah BBM. Memasuki tahun 2012 ini, masyarakat Gorontalo masih dipusingkan dengan antrian BBM. Sekali lagi, berapa rupiah yang terbuang hanya karena harus menghabiskan beberapa jam untuk sekedar mengisi bensin? Lucunya lagi, bensin eceran bertebaran di mana-mana, bahkan di sekitar lokasi pom bensin. Aturan pelarangan pengisian jerigen tidak diindahkan oleh petugas pom bensin walaupun sudah dijaga oleh pihak kepolisian. Maklum yang jaga Polisi Tidur. Belum lagi para penjual bensin eceran secara kreatif telah menemukan cara pemasokan bensin tanpa melalui jerigen, misalnya dengan menampung sementara bensin yang akan dijual pada tangki motor mereka. Aturan pembatasan BBM bersubsidi harus diiringi dengan aturan ‘Pelarangan BBM Eceran’.

Gubernur Gorontalo berkewajiban untuk menyediakan dan meningkatkan infrastruktur-infrastruktur tersebut bagaimanapun caranya. Bukankah Anda dipilih untuk menggunakan segala daya upaya dalam rangka pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat? Jika diibaratkan Masyarakat Gorontalo adalah majikan, maka Gubernur Gorontalo adalah budak. Bukankah masyarakat yang menggaji gubernurnya? Sehingga apapun harus dilakukan Gubernur Gorontalo untuk melayani dan menyenangkan Masyarakat Gorontalo. Dan satu lagi, yang sering dilakukan oleh Kepala Daerah pada umumnya adalah penggunaan jalan raya seenaknya. Mengapa wibawa Bung Karno masih tetap terjaga sampai saat ini? Karena beliau menghormati rakyatnya. Beliau selalu menyapa rakyatnya. Selama ini kita lihat para Kepala Daerah dengan angkuh dan serakahnya menggunakan jalan umum. Biasanya dilengkapi dengan mobil patwal lengkap dengan bunyi-bunyian yang sangat mengganggu. Kurang ajarnya lagi, masyarakat harus mengalah dan memberikan jalannya dipakai oleh Kepala Daerah ini. Lho, yang majikan siapa, yang budak siapa? Mending kalo kinerjanya sama cepatnya dengan mobilnya. Saya sangat mengharapkan Gubernur Gorontalo untuk tidak mempercepat mobilnya ketika melewati jalan rakyat. Lebih bagus lagi kalo kaca mobilnya terbuka sambil menyapa masyarakat. Jika itu yang dilakukan, saya pastikan wibawa Anda akan tetap terjaga sampai kapanpun. Bukankah ketika melewati Shiratal Mustaqim Anda tidak dijaga patwal? Jadi untuk apa kita arogan dalam menggunakan jalan di dunia, sementara kita tertatih-tatih ketika melewati Sirathal Mustaqim. Ingat, Gubernur Gorontalo tidak lebih hebat dan tidak lebih besar daripada Hitler, Mussolini, dan Khadafi. Dan di mana mereka sekarang? Mereka meninggalkan dunia ini tanpa membawa pasukannya apalagi hartanya.

Inilah Alasan Menteri Harus dari Profesional

Kali ini saya mengibaratkan negara seperti sebuah rumah yang sedang dibangun. Pemilik rumahnya tentu saja rakyat. Sang pemiliklah yang mempunyai dana untuk membeli semua yang dibutuhkan dalam pembangunan rumah tersebut. Sama seperti rakyat yang “berkewajiban” (sengaja saya pake tanda petik karena kewajiban ini dipaksakan atau dalam kasus lain disamarkan dalam bentuk harga misalnya) untuk membayar pajak yang akan dibelanjakan dalam pembangunan negara.

Berhubung Sang Pemilik rumah hanya punya mimpi gimana bentuk rumahnya nanti, tanpa mengetahui teknis pembangunan, maka diaudisilah beberapa kontraktor untuk mewujudkan mimpinya tersebut (Wakil Rakyat). Kontraktor ini dibayar oleh Sang Pemilik sama seperti Wakil Rakyat a.k.a. Anggota Dewan. Bahkan kebanyakan kontraktor memiliki penghasilan yang jauh lebih besar daripada Sang Pemilik “calon” rumah. Selanjutnya kontraktor peserta audisi mempresentasikan planningnya (program kerja). Mereka biasanya menjanjikan pada Sang Pemilik, dengan dana yang minim mereka akan mampu mebangun sebuah rumah yang nyaman dan sesuai bahkan melebihi impian Sang Pemilik.

Akhirnya terpilihlah kontraktor yang akan digunakan oleh Sang Pemilik. Biasanya yang terpilih adalah yang mampu menekan biaya, bahkan sebagai pemanis tak jarang mereka membuktikannya dengan memberikan uang pada Sang Pemilik.

Setelah itu kontraktor membentuk suatu tim yang terdiri dari para ahli (menteri). Ada arsitek, ahli kayu, ahli beton, dan lain-lain. Tiap tukang ini pun dibantu oleh orang-orang yang bekerja menurut keahlian masing-masing (staf kementerian). Para ahli ini dipimpin oleh seorang pemimpin (di Gorontalo disebut “Kapala Basi”) yang tugasnya mengkoordinasikan para ahli tersebut (presiden) dalam mewujudkan impian Sang pemilik rumah. Dalam pekerjaannya mereka selalu diawasi oleh kontraktor yang telah dipercaya oleh pemilik rumah.
Yang terjadi di pemerintahan sekarang adalah, kontraktor tersebut rupanya tidak puas hanya dengan mengawasi jalannya pembangunan. Maka mulailah mereka berupaya untuk dapat ikut langsung “membangun” rumah tersebut. Mereka diberi tugas untuk mengaduk semen, menggergaji kayu, dan hal lain yang mereka tidak punya pengetahuan mendalam tentangnya. Akhirnya dapat diprediksi, pembangunan tidak akan pernah selesai sesuai keinginan pemilik. Bagaimana bisa seorang kontraktor tiba-tiba memimpin tukang beton dan menentukan banyaknya campuran semen atau teknik pengadukannya?
Bukankah segala sesuatu harusnya diserahkan pada ahlinya seperti kata Rasul. Anehnya lagi di negeri ini salah seorang menteri dari partai yang mengklaim sebagai partai sunnah memimpin kementerian yang beliau sendiri tidak memiliki ilmu tentangnya. Bagaimana bisa kementerian komputer dipimpin oleh orang yang tidak mengerti komputer? Ketika ada hadits Rasulullah yang melarang untuk memanjangkan celananya (isbal) mereka mengikutinya, tapi hadits tentang menyerahkan segala sesuatu pada ahlinya sama sekali diabaikan. Mungkin karena ketidakmampuan partai ini dalam mengamalkan seluruh ajaran Rasul, akhirnya pada muktamar terakhir mereka mengatakan bahwa partai mereka bukan partai Islam.

Qurban doooong!!

Daging dan darah hewan qurban kita gak bakal nyampe ke Allah. Allah cuma mau tau ketaatan kita pada perintahNya. Kasarnya, Allah gak mau tau lu punya duit apa gak, yang Allah pengen tau lu disuruh berqurban mau gak??

Back Home (It Supposed to be published on May)

After over 3 months in Makassar, akhirnya balik juga ke Gorontalo karena My ‘special lady’ Mom masuk ICU. Cool, life’s just getting better and better… Blum dapat SK, baru mau mulai bisnis di Makassar, eh malah nambah masalah… Akhirnya sebisa mungkin bertahan dengan duit yang ada. Bisa aja sih minta bokap lagi, tapi pas tau biayanya rumah sakit niat itu terurungkan.

DUA RATUS LIMA PULUH RIBU SEMALAM, hanya untuk biaya kamar doang. Belum obat-obatan, dll. Itu juga udah pake Askes, tetap mahal. Akhirnya kuputuskan untuk berhemat. Yang tadinya kemana2 pake mobil, skarang pake motor. Yang tadinya diam2 aja di rumah, skarang wajib keluar kayak ayam dari kandangnya….

Kapan???…Kapan???

Wow… Tak terasa di usia yang belum genap 25 ini gua udah nyampe di fase “kapan?” yang ke-4. Anehnya lagi fase ini kayaknya wajib dilewati oleh semua orang yang pernah jadi mahasiswa dan setiap orang bakalan sibuk nyari jawaban masing-masing.

Fase “kapan?” pertama datang pas masih kuliah. Ribuan pertanyaan mengenai Tugas Akhir (TA) atau Skripsi akan datang menghampiri. Continue reading

Kenapa Gak Gua Aja yang Jadi Nabi?

Lagi males nonton berita gara-gara pemberitaan tentang aliran si Mirza Gulam Ahmad La’natullah Alaihi Fiddunya wal Akhirah yang gak ada tampan-tampannya sama sekali. Trus si Ahmadiyyah malah ngancam mau nuntut pemerintah. Rakyat boleh nuntut gak sih ke Ahmadiyyah? Kalo misale dia bawa ke jalur hukum, gua juga bakalan nyari massa buat nuntut Ahmadiyyah juga. Kenapa gak Ahmad Dhani aja yang dianggap sebagai Nabi? Atau Ahmad Deedat. Beliau juga alim koq… Salah satu alasan kenapa Mirza dianggap Nabi kan karena dia taat kepada Allah, kenapa gak Ahmad Deedat. Asli BEGO banget pengikut-pengikutnya.

Alasan lain dari Ahmadiyyah ialah suatu ayat Quran yang mengatakan bahwa Allah tidak berbicara (menurunkan wahyu) kecuali dengan berbicara secara langsung, lewat hijab, dst. Nah, kata Ahmadiyyah kalo misale Muhammad SAW adalah yang terakhir, berarti Allah gak ngomong-ngomong lagi dong. Gugurlah sifat Allah “Al-Mutakallim”. Lha, trus kenapa Nabinya cuma sampe Mirza Gulam doang? Berarti setelah Mirza Gulam Allah gak ngomong-ngomong lagi. Aturan kan masih ada Nabi lagi setelah Mirza Gulam?!?! Kalo gak bisa pake hati, ya pake otak dong!!! Masa dua-duanya gak punya?

Continue reading

Back to Fitrah

Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam (Ary Ginanjar Agustian)

The ESQ BookBaru nemu buku ini di rak temen pas lagi berkunjung ke kosannya. Waktu minjem bukunya masih bagus, gak kayak yang di foto. Abisnya kata dia gak pernah dibaca. Abis baca prolog, sontak (ciee…) gua balik ke halaman depan. Ternyata buku yang lagi gua baca ini udah cetakan keempat, September 2001 pula. Kemana aja nih buku selama ini??? Pas gua baru mau masuk kuliah nih buku udah nongol dan mungkin bisa bantu gua dapetin sukses di kuliah. Maybe that’s what they called ‘hidayah’, datangnya kapan trus buat siapa terserah Allah SWT. Mungkin juga Allah pengen pas hidayahnya masuk ke gua, trus gak ilang-ilang lagi. Tau kan gimana susahnya istiqomah pas kuliah. Apalagi kalo lu tau masa kuliah gua…

Continue reading